x

BNN, Barantin, pintu masuk Indonesia, dan penyelundupan narkoba cair,

waktu baca 3 menit
Jumat, 5 Jun 2026 12:14 84 Merah Putih

Jakarta – Ancaman penyelundupan narkotika ke Indonesia terus berkembang dengan berbagai modus baru yang semakin canggih. Menyadari bahaya tersebut, Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Badan Karantina Indonesia (Barantin) sepakat memperkuat sinergi untuk memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk negara.

Komitmen itu mengemuka dalam pertemuan antara Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, dengan Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, di Gedung Mina Bahari (GMB) II, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Pertemuan tersebut menjadi langkah strategis dalam mengantisipasi sekaligus mendeteksi penyelundupan narkotika melalui jalur perbatasan, pelabuhan, dan bandara yang selama ini menjadi target jaringan narkoba internasional.

Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, mengungkapkan bahwa para pelaku kini menggunakan berbagai cara untuk mengelabui petugas. Salah satu kasus yang pernah terungkap adalah penyelundupan ganja seberat 800 kilogram asal Jerman yang disamarkan di dalam pakan ternak.

“Modus operandi penyelundupan narkotika terus berubah. Bahkan kini sudah berkembang dalam bentuk cairan atau liquid yang membutuhkan metode deteksi khusus,” ujarnya.

Menurut Karding, Barantin yang berada di garis terdepan pengawasan lalu lintas barang dan komoditas akan memperkuat sistem pelacakan (tracking) serta deteksi dini. Informasi terkait modus-modus baru yang ditemukan BNN nantinya akan langsung diintegrasikan agar petugas di lapangan dapat bergerak lebih cepat.

Tidak hanya itu, Barantin juga akan menghubungkan sistem basis data (database trust) dengan BNN sehingga aktivitas mencurigakan dapat dipantau secara real-time.

Karding menegaskan, kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya menyelamatkan masa depan generasi bangsa.

“Ini menyangkut Generasi Emas Indonesia. Jangan sampai generasi kita justru menjadi generasi cemas karena ancaman narkotika. Semua pihak harus terlibat dalam perang melawan narkoba,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, menyampaikan apresiasi atas dukungan Barantin dalam memperkuat pengawasan di pintu-pintu masuk Indonesia. Menurutnya, tugas pemberantasan narkotika tidak bisa dilakukan sendiri dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Suyudi mengungkapkan bahwa tren peredaran narkotika kini semakin mengkhawatirkan. Jika sebelumnya narkoba identik dengan bentuk serbuk, pil, atau tanaman, kini telah bermunculan narkotika cair (liquid), termasuk jenis synthetic cannabinoid yang kerap disalahgunakan melalui rokok elektrik atau vape.

“Pendeteksian narkotika cair membutuhkan teknologi dan kerja sama yang lebih kuat. Posisi strategis Indonesia di kawasan Asia Tenggara, ditambah adanya jaringan narkotika internasional seperti Golden Triangle, membuat pengawasan harus semakin diperketat,” katanya.

Selain mengawasi jalur resmi seperti bandara dan pelabuhan, BNN dan Barantin juga akan meningkatkan pengawasan terhadap pelabuhan-pelabuhan tikus yang selama ini kerap dimanfaatkan sindikat untuk menyelundupkan barang haram.

Sebagai tindak lanjut, kedua lembaga sepakat untuk segera menyusun Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang mencakup pencegahan, pemberantasan, pertukaran data, hingga pelatihan bersama.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi benteng baru dalam menjaga Indonesia dari ancaman narkotika serta melindungi generasi muda dari bahaya yang terus berevolusi.

 

 

Redaksi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x